Yuk, Kita simak video kritik untuk pemimpin dalam lagu daerah dibawah ini!

Gambar: Lagu Daerah
Sumber: https://bola.com/

Kalian mungkin pernah mendengar lantunan syair Gundul Pacul? Ya, syair berbahasa Jawa ini sudah dipopulerkan sejak jaman Sunan Kalijaga 6 abad lalu. Sunan Kalijaga kala itu menciptakan syair Gundul Pacul sebagai sebuah nasihat atau sindiran bagi penguasa untuk tidak berlaku sombong.

Dilansir dari laman BKD Pemprov Jogja, gundul dalam bahasa Indonesia berarti botak. Sementara rambut sering dianalogikan sebagai mahkota. Dalam syair itu, gundul merupakan simbol kehormatan tanpa mahkota. Sementara ‘Pacul’ bahasa Indonesianya adalah cangkul, sebuah alat yang sering dipakai petani untuk bekerja di sawah. Pacul menjadi simbol kawula rendah, yakni petani.

Kata Gundul Pacul sendiri berarti seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia yang mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Dalam filosofi Jawa, pacul bisa merupakan akronim dari ‘Papat Kang Ucul’ (empat hal yang lepas). Di mana kemuliaan seseorang tergantung pada empat hal tersebut, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat.
  2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
  4. Mulut digunakan untuk berkata adil.
  5. Jika empat hal itu lepas, maka lepas pulakehormatannya.

Sementara ‘Gembelengan’ artinya besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Berikut ini adalah makna lengkap dari lagu Gundul-gundul Pacul.

  • Gundul-gundul pacul-cul gembelengan

Pemimpin itu bukanlah orang yang mengenakan mahkota, melainkan orang yang mampu menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya untuk kebaikan rakyat dan jangan jadi gembelengan (sombong dan besar kepala).

  • Nyunggi-nyunggi wakul gembelengan

Mengemban amanah rakyat (nyunggi wakul) jangan jadi sombong dan besar kepala.

  • Wakul glimpang segane dadi sak latar.

Jika amanah tidak ditunaikan (wakul glimpang) maka kehormatan penguasa akan jatuh, dia menjadi tidak berharga dan sia-sia bagi orang banyak (segane dadi sak latar).

Baca Juga : Unsur Pendukung Tari Tradisional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU