Yuk, Kita simak video Ludruk: Kesenian dari Rakyat Jelata dibawah ini!

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=h-n-oT34hNg

Ludruk merupakan salah satu seni pertunjukkan asli Tanah Air yang memiliki banyak ragamnya. Mulai dari tarian, alat musik, hingga seni pertunjukkan daerah. Ludruk merupakan seni rakyat jelata yang berasal dari Jawa Timur. Kesenian pertunjukkan ini banyak ditampilkan di Surabaya, Jombang, hingga Malang. Ludruk berasal dari kata “molo-molo” dan “gedrak-gedruk”. “molo-molo” yaitu kondisi mulut yang penuh tembakau sugi yang hendak dimuntahkan. Sedangkan “gedrak-gedruk” merupakan kondisi kaki yang dihentak-hentakkan ke bawah saat menai di pentas.

Gambar: Ludruk
Sumber: https/binus.ac.id

Kaum marginal Surabaya adalah yang pertama kali membuat pertunjukkan yang diangkat dari cerita kehidupan sehari-hari, yang lekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat menengah ke bawah. Bahasa yang digunakan yaitu bahasa Jawa dan Madura yang biasanya digunakan dalam kegidupan sehari-hari. Sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami oleh penonton. Di dalam pertunjukkan tersebut juga disisipi guyonan dan gerak yang membuat penonton terpingkal-pingkal. Kesenian ini merupakan kesenian yang banyak disukai oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, tukang becak, sopir angkutan umum, dan lainnya.

Pun awal mulanya ludruk tidak ditampilkan di panggung, melainkan di tanah lapang. Alat musik yang digunakan pun hanya sebatas kendang dan jidor. Setelah itu Ludruk Bandhan (ludruk pertama muncul) berkembang menjadi Lerok Pak Santik pada abad ke-17 hingga ke-18. Arti dari ludruk ini sendiri adalah petani Jombang yang menjadi tokoh dalam cerita, yang memperbaharui kesenian ludruk.

Pak Santik dalam pertunjukkannya pun menggunakan riasan wajah dan ikat kepala, dengan dada yang dibiarkan terbuka. Ia mengenakan celana hitam menjuntai yang berada di atas mata kaki. Selain itu, Pak Santik juga menggunakan selempang (seledang) yang tersampir di bahunya. Selama pertunjukkan, ia menari (ngremo) sambil berbicara sendiri mengungkapkan isi hatinya (kidungan).

Pak Santik sering tampil dalam acara pernikahan, sunatan, dan kelahiran di kampung seiring berjalannya waktu. Ia tampil bersama beberapa teman yang berperan sebagai pelawak, dan perempuan (teledhek). Ia juga tak lagi bebricara sendiri, melainkan ada diskusi dalam pentas, yang kemudian identik dengan guyonan.

Baca Juga : Teknik Penerapan Ragam Hias pada Bahan Tekstil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU