Operasi Pembebasan Irian Barat

Yuk, Kita simak video Operasi Pembebasan Irian Barat dibawah ini!

Sejak terbentuknya kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Operasi Pembebasan Irian Barat tidak sekalipun lepas dari perhatian Presiden Soekarno. Masalah Irian Barat bukan sekedar wilayah yang masih berada di tangan kolonialis, tapi juga menyangkut harga diri sebuah negara berdaulat. Dikeluarkannya Trikora, menandakan bahwa Presiden Soekarno meninggalkan usaha diplomasi dengan pihak Belanda. Indonesia siap dengan segala resiko yang dihadapi dengan melakukan operasi militer pembebasan Irian Barat.

Pada 1961, Presiden Soekarno mengeluarkan Tiga Komando Rakyat (Trikora). Isi Trikora, yakni:

  1. Gagalkan pembentukan negara Papua
  2. Kibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat
  3. Bersiap untuk mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dam kesatuan tanah air dan bangsa.

Persiapan untuk merebut Irian Barat, pada 2 Januari 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan Nomor 1 Tahun 1962 untuk membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Selaku Panglima Mandala ditunjuk Brigadir Jenderal Soeharto dan Komanda Mandala berpusat di Makassar. Pada tanggal 13 Januari 1962, Brigjen Soeharto dilantik menjadi panglima Mandala dan dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal. Di samping sebagai Panglima Mandala, Soeharto juga merangkap sebagai Deputi Kasad Wilayah Indonesia bagian Timur.

Kedudukannya berada langsung dibawah Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (Pangbes KOTI/Permirbar) yang juga dijabat oleh Presiden Seokarno. Dalam posisinya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indoneisa (APRI) /Pangbes KOTI/Permirbar, beliau mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 1962 dengan isi sebagai berikut.

  • Merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indoneisa.
  • Mengembangkan situasi militer di wilayah Irian Barat sesuai dengan taraf perjuangan di bidang diplomasi, agar dalam waktu sesingkat-singkatnya, di wilayah Irian Barat secara de facto dapat diciptakan daerah-daerah bebas atau didudukan unsur-unsur kekuasaan Pemerintah Daerah Republik Indonesia.
Operasi Pembebasan Irian Barat
Gambar: Pasukan Operasi Naga 
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-2245705/pasukan-naga-menyusup-ke-papua

Operasi Militer ini direncanakan dalam tiga tahap

Dimana tahap pertama adalah tahap Inflitrasi (sampai akhir 1962), yaitu tahapan pendaratan pasukan dari udara dan laut dengan tujuan untuk penguasaan wilayah dan membawa serta rakyat Irian Barat untuk membebaskan wilayahnya. Tahap kedua, adalah tahap Eksploitasi (mulai awal 1963) dengan mengadakan serangan terbuka kepada pusat militer Belanda dan semua pos militer pentingnya. Dan tahap ketiga adalah tahap Konsolidasi (awal 1964), yaitu menegakkan kekuasaan Republik Indonesia secara mutlak di seluruh wilayah Irian Barat.

Baca juga: Mengenang Perjuangan Yos Sudarso

Berbagai operasi militer pun dilakukan. Infiltrasi melalui laut sebagian telah tercium oleh musuh dan mengalami rintangan berat, mulai dari kapal-kapal Belanda sampai ombak yan gtinggi. Pada bulan April 1962, dilakukan infiltrasi dari udara. Dengan demikian sampai tanggal 15 Agustus telah diinfiltrasikan 10 kompi.

Sementara itu,

Telah dipersiapkan pula operasi penentuan yang bernama Operasi Jaya Wijaya dengan target pelaksanaan pada awal Agustus 1962. Tujuan dari operasi ini adalah untuk merebut daerah Irian Barat. Akan tetapi sebelum Operasi Jaya Wijaya ini dilaksanakan datanglah perintah dari Presiden untuk menghentikan serangan pada tanggal 18 Agustus 1962.

Operasi terakhir yang dilaksanakan adalah operasi Wisnu Murti yakni operasi menghadapi penyerahan Irian Barat kepada pemerintah Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. Dengan demikian, pada tanggal 1 Mei 1963 tugas Komando Mandala telah selesai  dan komando tersebut secara resmi dibubarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU