Menerapkan Sikap Jujur dan Wara’

Yuk, Kita simak video Menerapkan Sikap Jujur dan Wara’ dibawah ini!

Jujur dalam bertransaksi dan meninggalkan perkara yang syubhat merupakan suatu kedudukan luhur yang tidak bisa dicapai oleh siapapun, kecuali orang yang hatinya selalu bergantunng pada Allah Swt. Keduanya sangat penting karena dalam kehidupan diberbagai aspek sangat diperhitungkan. Al-Qur’an dan Assunah sendiri banyak yang menyinggung permasalahan dalam Menerapkan Sikap Jujur dan Wara’. Berikut penjelasan tentang jujur dalam bertransaksi dan bersikap wara. 

A. Jujur dalam Bertransaksi

Ketika Nabi   baru saja tiba di Madinah (dalam rangka hijrah dari Makkah), orang-orang di sana masih sangat terbiasa mengurang-ngurangi timbangan (dalam jual-beli). Allah lantas menurunkan ayat “Celakalah bagi orang-orang yang curang” dalam Q.S. al-Muthaffifin yang sudah ada pada artikel sebelumnya. Maka setelah turunnya ayat ini, mereka khususnya orang-orang Muslimin di Madinah selalu menepati takaran dan timbangan.

Masyarakat Yastrib (nama sebelum Madinah) awalnya terbiasa dengan praktik-praktik kecurangan. Dengan kedatangan Rasulullah   yang membawa risalah Al-Qur’an, maka tak ada lagi yang berani mempermainkan takaran. Para pedagang di Madinah berubah menjadi pebisnis yang paling jujur seantero Arab.

Kecurangan yang disinggung dalam firman Allah itu tak sekadar dalam praktik jual-beli, melainkan lebih luas lagi. Muthaffifin juga dapat merujuk pada mereka yang gemar mengurangi hak orang lain. Mereka itulah yang diancam dengan suatu kecelakaan besar. Allah mengancam akan memasukkan mereka ke dalam neraka Wail, lembah di neraka jahanam yang sangat dahsyat siksanya.

Rasulullah juga menegaskan dalam sabdanya:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ، إِنَّكُمْ قَدْ وَلِيتُمْ أَمْرًا هَلَكَتْ فِيهِ الْأُمَمُ السَّالِفَةُ: الْمِكْيَالُ وَالْمِيزَانُ. (رواه البيهقي)

Artinya:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda: “Wahai seluruh para pedagang, ingatlah, sesungguhnya kalian telah mengurus suatu perkara yang banyak diantara umat-umat terdahulu celaka karenanya: -tindakan mengurangi- takaran dan timbangan.” (HR. Baihaqi)

Hadits ini berisi peringatan dari Rasulullah kepada para praktik perdagangan, bahwa banyak di antara umat terdahulu yang celaka karena curang dalam dagangnya. Mereka adalah orang-orang yang jika menerima takaran mereka minta ditambah dan jika mereka menimbang atau menakar untuk orang lain mereka mengurangi.

Ibnu Katsir juga berkata,

وَأَهْلَكَ اللهُ قَوْمَ شُعَيْبٍ وَدَمَّرَهُمْ عَلَى مَا كَانُوْا يَبْخَسُوْنَ النَاسَ فِي الْمِكْياَلِ وَالْمِيْزَانِ

Artinya:

“Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.”

Menerapkan Sikap Jujur dan Wara’
Gambar : seseorang yang mengembalikan semua urusan pada Allah
Sumber : https://fimadani.com/wp-content/uploads/2017/01/gambar-sujud-kuda.jpg

B. Wara’

Menurut sebagian ulama wara’ adalah sikap meninggalkan perkara yang membuat ragu, yaitu perkara syubhat (samar atau tidak jelas halal haramnya) karena khawatir terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan. Abu Abdirrahman al-’Umari az-Zahid rahimahullah berkata, “Apabila seorang hamba memiliki sifat wara’, niscaya dia akan meninggalkan perkara yang meragukannya menuju kepada perkara yang tidak meragukannya.”

Apakah kamu sudah mempunyai sikap wara’ atas keraaguan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas? Seperti keraguan kita terhadap waktu maghrib, waktu buka puasa atau bahkan meragukan kehalalan makanan yang sudah ada di hadapan kita.

Rasulullah pernah bersabda:

عَنْ حَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيْبَةٌ. (رواه الترمذي والنسائي)

Artinya:

Dari Hasan bin Ali berkata: Saya hafal dari Rasulullah bersabda:  “Tinggalkan perkara yang meragukanmu menuju kepada perkara yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah ketenangan di hati sedangkan kedustaan itu adalah keraguan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Hadits ini merupakan pokok dalam hal meninggalkan syubhat serta peringatan dari berbagai jenis keharaman. Al-Askari rahimahullah menyatakan, “Jika orang-orang pandai merenungkan dan memahami hadits ini, niscaya mereka akan yakin bahwasanya hadits ini telah mencakup seluruh apa yang dikatakan tentang menjauhi perkara syubhat”.

Rasulullah telah bersabda,

مَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

Artinya:

“Siapa yang berhati-hati/menjaga dirinya dari syubhat (perkara yang samar) maka sungguh ia telah menjaga agama dan kehormatannya.”

Rasulullah dalam hadis yang mulia ini memerintahkan kepada kita untuk menjauhi perkara yang meragukan, baik berupa ucapan maupun amalan, dilarang maupun tidak. Kita disuruh mengambil perkara yang meyakinkan. 

Sesuatu yang telah jelas halalnya, tidak akan membuat keraguan, kebimbangan, kegoncangan, dan kegelisahan di hati orang yang beriman. Bahkan, jiwa dengan tenang akan menjalaninya. Sebaliknya perkara yang syubhat, apabila diamalkan atau dijalani akan menimbulkan kegelisahan dan kegoncangan di hati seseorang.

Sementara itu, Hassan bin Abi Sinan rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang lebih ringan/mudah daripada sikap wara’. Apabila ada sesuatu yang meragukanmu, tinggalkanlah.”

Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi rahimahullah di dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin berkata: “Wara’ itu memiliki empat tingkatan:

  1. Berpaling dari setiap perkara yang dinyatakan keharamannya.
  2. Wara’ dari setiap perkara syubhat yang sebenarnya tidak diwajibkan untuk dijauhi, namun disenangi baginya untuk meninggalkannya.
  3. Lalu, Wara’ dari sebagian perkara yang halal karena khawatir jatuh kepada perkara yang haram.
  4. Wara’ dari setiap perkara yang tidak ditegakkan karena Allah, dan ini adalah wara’ para shiddiqin (orang-orang yang tinggi imannya).”

Penerapan terhadap perilaku jujur dan wara’ dalam hadis riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas dan hadis riwayat Tirmidzi dari Hasan bin Ali adalah memberikan keterangan yang benar dalam suatu perselisihan yang terjadi di kalangan umat. Sebagai seorang saksi harus berkata jujur, apa yang diakatakan sesuai dengan fakta dan kejadian sebenarnya. Dan sebagai hamba yang mempunyai sikap wara’ hendaknya menghindari perkara yang syubhat. Janganlah membuat cerita fiktif dan menjadikan seseorang sebagai kambing hitam atau tersangka dalam perkara tersebut, padahal belum tentu apa yang kita prasangkakan adalah kenyataannya. Maka menerapkan sikap jujur dan wara’ (meninggalkan perkara syubhat) merupakan ketentuan Allah yang memang penting untuk diterapkan.

Baca Juga: Menikmati Tilawah dengan Tajwid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU