Jujur dan Adil Asas Hidupku

Yuk, Kita simak video Jujur dan Adil Asas Hidupku dibawah ini!

Jujur dan Adil Asas Hidupku, Alquran menuntun kita untuk berlaku jujur dan adil dalam berperilaku. Sikap ini menjadi bagian dari karakter Rasulullah yang ada bahkan sejak nabi Muhammad belum menjadi rasul. Nabi sendiri menerapkan kejujuran dan adil sejak beliau masih kecil. Karakter al- Amin (orang yang bisa dipercaya) dan al-Adlu (orang yang adil)  kerap membuat pendapatnya menjadi opsi ketika ada pihak bersengketa.

Jujur dan Adil Asas Hidupku
Gambar : perumpamaan orang yang jujur dan adil
Sumber : http://Gambar : perumpamaan orang yang jujur dan adil Sumber : https://3.bp.blogspot.com/-SYjb1lCWhE8/VgZ6A5yGBfI/AAAAAAAAAE4/B31m6AidA5s/s1600/6.jpg

A. Jujur dalam Muamalah

Dalam Islam sikap jujur sangat di anjurkan serta di utamakan. Karena kejujuran merupakan tolak ukur umat yang bertaqwa. Dengan kejujuran nabi selalu mendapatkan keberkahan dan keuntungan yang tak terhingga. Karena dengan kejujuran pasti akan membuahkan hasil yang baik. Maka dari itu Nabi selalu mencontohkan dan mengajarkan pada umatnya agar bersikap jujur dalam segala hal, baik dalam perkataan atau pun perbuatan. Bahkan pada saat nabi berdagang, beliau lebih mementingkan kejujuran di bandingkan dengan keuntungan. Jujur dalam bermuamalah terdapat dalam Firman Allah Swt pada Q.S. al-Muthaffifin Ayat 1-17.

Jujur dan Adil Asas Hidupku

Yang artinya :

1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, 3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. 4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, 5. pada suatu hari yang besar, 6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

7. sekali-kali jangan curang, karena Sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. 8. tahukah kamu Apakah sijjin itu? 9. (ialah) kitab yang bertulis. 10. kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, 11. (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. 12. dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, 13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”

14. sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. 15. sekali-kali tidak[1563], Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. 16. Kemudian, Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. 17. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu Kami dustakan”.

Pada ayat pertama terdapat kalimat al-Muthaffifin yang berasal dari kata thaffafa artinya mengurangi atau menambah sedikit. Menurut Ibnu Kastir kalimat ath-thathfif artinya pengambilan sedikit dari timbangan atau penambahan. Maksud dari semua itu adalah kecurangan dalam timbangan. Karena itulah surat ini diberi nama Al-Muthaffifin. Rahasia dipilihnya kalimat ini adalah karena yang diambil mereka sebenarnya sedikit sekali, tetapi dosanya besar. Isi pokok surat ini adalah ancaman bagi mereka yang suka menipu dan mengambil hak orang lain, serta ancaman bagi orang-orang kafir yang suka mengejek dan menghina orang-orang beriman. 

B. Adil dalam Bersikap

Adil dalam bersikap terdapat dala, surah al-an’am ayat 152:

Jujur dan Adil Asas Hidupku

Artinya:

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Ayat ini menjelaskan akan larangan mendekati harta anak yatim. Adapun larangan mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik, maksudnya adalah tidak boleh mengganggu siapa jua pun, baik orang lain maupun walinya sendiri, kecuali untuk memelihara, memperkembangkan dan membelanjakan untuk keperluan yang bermanfaat bagi anak yatim itu sendiri. Dan bila anak yatim itu sudah dewasa barulah diserahkan harta tersebut kepadanya. Mengenai usia, para ulama menyatakan sekitar 15-18 tahun, artinya antara usia tersebut seorang anak yang normal sudah dapat menjaga dan memelihara hartanya. 

Allah juga menyinggung keharusan menyempurnakan takaran dan timbangan ini berulang kali disebutkan di beberapa surat dalam Al-Qur’an dengan bermacam cara, bentuk dan hubungannya, antara lain firman Allah:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya:

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Q.S al-Isra’: 35)

Dalam ayat di atas Allah juga mengharuskan kaum muslimin untuk bersikap adil kendatipun terhadap keluarganya sendiri, terutama dalam memberikan kesaksian dan putusan hukum. Dan ini adalah yang paling utama dalam pembangunan akhlak dan sosial, tanpa membedakan orang lain dengan kaum kerabat.

Baca Juga: Menerapkan Sikap Jujur dan Wara’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU