Adab Terhadap Orang Tua dan Guru

Yuk, Kita simak video Adab Terhadap Orang Tua dan Guru dibawah ini!

Abdullah Ibnu Amar al-‘Ash r.a. berkata : Bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda : “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua.” (HR. Tirmidzi). Dari hadits diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Adab Terhadap Orang Tua dan Guru sangatlah penting.

Adab Terhadap Orang Tua dan Guru
Gambar : ilustrasi adab terhadap sesama dan orang tua
Sumber: https://www.bimakini.com/

Berikut adalah beberapa adab atau sikap kita kepada orang-orang yang telah berjasa:

  • Adab Terhadap Orang Tua

Orang tua merupakan orang yang secara jasmani menjadi asal keturunan anak, orang tua merupakan sosok yang paling dekat hubungannya dengan anaknya. Pengorbanan orang tua sungguh tiada tara, mereka mendidik kita dan menyerahkan hidupnya untuk keselamatan anaknya.

Kita harus selalu berbuat baik kepada kedua orang, sebagaimana Firman Allah dalam surah Luqman ayat 14 yang artinya : “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu” (QS. Luqman 31:14).

Selanjutnya,

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa adab kepada orang tua (yang masih hidup) adalah sebagai berikut :

  1. Jangan berkata kasar yang dapat menyakiti perasaan kedua orang tua.
  2. Berkata baik, sopan dan santun kepada kedua orang tua, karena itu termasuk perbuatan memuliakan orang tua.
  3. Bertanggung jawab atas kehidupan dan kesejahteraannya di hari tuanya, termasuk memberikan nafkah ketika mereka tidak bisa lagi mencari nafkah. Pemberian nafkah ini bukan termasuk zakat profesi (baca juga: Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal). Jika ada seseorang memberikan 2,5 % dari penghasilan kepada orang tua bukan masuk kategori zakat, tetapi masuk kategori shodaqoh sebagai bentuk ihsan atau berbuat baik kepada kedua orang tua. Namun jika orang tua ternyata tidak mampu, maka pemberian tersebut bisa dikategorikan sebagai nafkah kepada mereka.
  4. Merendahkan diri di hadapan kedua orang tua.
  5. Jangan membentak atau memarahi kedua orang tua, sekalipun keduanya lalim.
  • Adab Kepada Guru

Guru merupakan ‘orang tua kedua’ kita, merekalah yang berjasa dalam mendidik kita setelah orang tua, Ilmu yang kita peroleh saat ini tidak lepas dari peranan seorang guru, seseorang dapat membedakan baik dan buruk karena ilmu. Islam meletakkan ilmu di atas yang lainnya, dan Islam juga meninggikan derajat orang yang berilmu dibanding yang lain.

Orang yang berilmu tidaklah pandai begitu saja tanpa proses belajar. Proses belajar bisa dilakukan secara formal maupun non-formal. Proses belajar biasanya membutuhkan pembina yang biasa disebut guru, yang mempunyai andil besar dalam proses belajar. Guru akan membukakkan pintu-pintu ilmu lain baginya, yang menunjukkan bila kita salah, agar tidak tergelincir pada kekeliruan. Hendaknya orang yang sedang belajar dan berilmu itu bersikap baik terhadap guru.

Berikut adalah beberapa adab murid kepada guru:

  • Muliakan Dan Menghormati Guru

Memuliakan orang yang berilmu/guru termasuk perkara yang dianjurkan, sebagaimana Rasulullah saw. berikut.

Ibnu Abbas r.a berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Bukan termasuk golongan umatku orang yang tidak menyayangi yang muda, tidak menghormati yang tua, tidak memerintahkan kebajikan dan tidak melarang kemungkaran” (HR. Tirmidzi).

Agar mendapat ilmu dan taufik, seorang murid hendaknya memuliakan dan menghargai guru, serta berlaku lemah lembut dan sopan santun, jangan memotong pembicaraannya, dan memperhatikan dengan baik. Agar kita mendapat ilmu yang bermanfaat, aamiin

  • Mendoakan Untuk Kebaikan Bagi Guru

Ibnu Jama’ah ra. berkata : “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunyqa sepanjang masa, memperhatikan anak-anaknya, kerabatnya, dan menunaikan haknya apabila telah wafat”. “Dan karena ilmu yang telah diberikannya juga, hendaknya seorang murid mendoakan gurunya, semoga ia diberikan pahala atas ilmu yang telah diberikan kepada muridnya”.

Selanjutnya,

  • Rendah Hati Kepada Guru

Sama halnya dengan adab kepada orang tua, kita juga harus merendahkan hati kepada guru, walaupun sang murid lebih pintar, hendaknya menghidari perdebatan dengan guru, dalam hal ini seorang murid hendaklah bersikap rendah hati kepada gurunya, karena sesungguhnya rendah hatinya seorang murid kepada gurunya adalah kemuliaan dan tunduknya adalah kebangaan, sebagaimana Ibnu Jama’ah pernah mengatakan demikian.

  • Mencontoh Akhlaknya

Guru adalah teladan bagi muridnya, oleh karenanya, hendaklah seorang murid mencontoh akhlak dan kepribadian gurunya yang baik. Seperti mencontoh kebiasaan dan ibadahnya. Seorang guru pasti membrikan hal-hal yang baik secara lisan atau perbuatan terhadap murid-muridnya.

  • Menenangkan Hati Guru

Seorang murid hendaknya tidak membuat gusar gurunya. Imam Syafi’i dalam pertemuannya dengan gurunya, Imam Malik, pada tahun 170 H, hampir tidak pernah meninggalkan gurunya sampai gurunya wafat pada tahun 179 H. Imam Syafi’i tidak pernah meninggalkannya, kecuali ketika ia pergi ke Mekah untuk menjenguk ibunya ataupun pergi ke pusat ilmu atau faqoh. Itupun setelah diperoleh izin dan restu daru gurunya.

Ada sebuah cerita tentang Imam Syafi’i, ketika beliau berziarah ke makam Abu Hanifah, ia datang bersama dengan salah satu murid seniornya Abu Hanifah, bernama Hasan Asy-Syaibani. Setelah tiba di makam, Hasan Asy-Syaibani mempersilahkan Imam Syafi’i untuk menjadi imam shalat subuh.

Baca Juga: Waktu Pelaksanaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU