Kebudayaan Masyarakat Zaman Praaksara

Yuk, Kita simak video Kebudayaan Masyarakat Zaman Praaksara dibawah ini!

Masa Praaksara atau prasejarah merupakan kurun waktu (zaman) pada saat manusia belum mengenal tulisan atau huruf. Meskipun belum mengenal tulisan, kita dapat menemukan hasil kebudayaan masyarakat zaman praaksara. Berbagai peninggalan tersebut menjadi bukti kebudayaan yang dimiliki masyarakat praaksara. Hasil Kebudayaan Masyarakat Zaman Praaksara di Indonesia secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu zaman batu dan zaman logam. Zaman batu di Indonesia terbagi menjadi zaman batu tua (paleolitikum), zaman batu tengah (mesolitikum), zaman batu muda (neolitikum), dan zaman batu besar (megalithikum).

Hasil kebudayaan paleolitikum

Indonesia terbagi dalam kebudayaan Pacitan (kapak perimbas)  dan kebudayaan Ngandong (flake, kapak genggam). Sedangkan hasil kebudayaan mesolitikum berupa kapak genggam Sumatera yang ditemukan di tumpukan sampah kerang (Kjokkenmoddinger), kebudayaan tulang Sampung, dan kebudayaan Toala. Pada zaman neolitikum di Indonesia, kebudayaan yang dihasilkan berupa kapak persegi, kapak lonjong, perhiasan, pakaian, dan beberapa tembikar. Pada zaman megalitikum di Indonesia, kebudayaan yang dihasilkan berupa menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, pundek berundak, arca batu, dan kubur peti batu.

Kebudayaan logam di Indonesia hanya mengalami kebudayaan perunggu. Hal ini dikarenakan kebudayaan tembaga dan besi kurang berkembang di Indonesia. Penggunaan logam di kawasan Asia Tenggara sudah dimulai sekitar tahun 3000-2000 SM sebagai bagian dari sejarah benua Asia dan masa penggunaan logam di kehidupan manusia purba Indonesia disebut masa Perundagian. Disebut demikian karena pembuatan alat – alat dari logam memerlukan teknik dan keterampilan khusus yang hanya dimiliki oleh sebagian anggota masyarakat yang dinamakan Undagi. Manusia purba di Indonesia tidak mengalami zaman tembaga, melainkan langsung memasuki zaman perunggu. Pada zaman logam perunggu telah terbentuk sebuah perkampungan yang teratur dan dipimpin oleh kepala suku yang tinggal di dalam rumah bertiang berukuran besar.

Kebudayaan perunggu

Adalah hasil percampuran dari masyarakat purba asli Indonesia (Proto Melayu) dengan bangsa Mongoloid yang membentuk ras bernama Deutro Melayu atau Melayu Muda. Manusia purba jenis Deutro Melayu adalah nenek moyang dari suku Jawa, Bugis, Bali, Madura dan lainnya. Pada zaman ini juga ada proses percampuran ras Deutro Melayu dengan Melayu Mongoloid dan Asutra Melanesoid atau Papua Melanosoid.

Baca juga: Akulturasi Hindu Budha di Indonesia

Kemajuan teknologi pada zaman logam terjadi dengan beberapa penemuan teknik kerajinan yaitu teknik Bivalve dan A Cire Perdue. Teknik Bivalve menggunakan dua cetakan yang dirapatkan. Terdapat lubang yang berfungsi untuk  menuangkan logam cair ke dalam cetakan, yang dibuka ketika perunggu sudah dingin. Sedangkan teknik A Cire Perdue diawali dengan pembuatan bentuk benda logam yang diinginkan menggunakan lilin yang berisi tanah liat. Lilin ini kemudian dihias dengan berbagai pola sebelum menuangkan perunggu cair ke dalam lubang, dimana cetakan ini hanya bisa digunakan sebanyak satu kali saja. Teknik peleburan perunggu didapatkan dari kebudayaan Dong Son di Tonkin, Vietnam.

Hasil peninggalan zaman praaksara perunggu antara lain sebagai berikut.

Nekara

Peninggalan zaman logam perunggu ini berbentuk seperti semacam genderang berupa dandang yang tertelungkup. Berbentuk semacam pinggang pada bagian tengah, dan bagian atas yang tertutup. Nekara merupakan artefak suci bagi masyarakat di zaman pra aksara. Di Indonesia, nekara hanya digunakan untuk upacara – upacara tertentu saja, antara lain untuk memanggil arwah nenek moyang, genderang perang, atau alat pemanggil hujan. 

Pada nekara terdapat pola hiasan yang beragam, karena itu nekara termasuk ke dalam benda seni yang bernilai tinggi. Hiasan nekara selain sebagai petunjuk adanya kegiatan keagamaan (kepercayaan), juga dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan dan kebudayaan yang berkembang saat itu. Lukisan pada nekara biasanya berupa burung, gajah, dan ornament-ornamen lingkungan alam sekitar. Lukisan pada nekara juga dapat menjadi petunjuk mengenai daerah persebaran kebudayaan perunggu. Nekara di Indonesia ditemukan di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Sangean, Roti, Kei, dan Selayar. Ada juga nekara yang berbentuk lebih kecil, dinamakan Moko yang ditemukan di pulau Alor dan berfungsi selain sebagai benda pusaka juga digunakan untuk mas kawin.

Kapak Corong

Adalah kapak perunggu yang bagian atasnya berlubang. Berbentuk corong yang digunakan untuk memasukkan tangkai kayu Melihat bentuknya tersebut, kapak corong sering pula disebut dengan nama kapak sepatu. Kapak corong banyak ditemukan di daerah Sumtera Selatan, Bali, Silawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Pulau Selayar, dan Papua. Bentuk kapak corong ada berbagai macam jnis, misalnya ada yang pendek, bulat, maupun panjang. Ada juga kapak corong yang kecil bentuknya dan halus buatannya yang disebut candrasa. Kerena bentuknya yang kecil dan halus buatanya, kemungkinanan candrasa hanya digunakan unruk tanda kebesaran atau alat upacara saja. Candrasa ditemukan didaerah Yogyakarta dan Reti Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan tandatanda tang ditemukan pada kapak corong, menunjukkan bahwa benda tersebut dibuat dengan teknik a cire perdue.

Arca Perunggu

Ada yang berbentuk manusia, adapula yang berbentuk binatang. Arca perunggu, umumnya, berbentuk kecil dan terdapat cincin pada bagian atasnya. Dimana cincin tersebut digunakan sebagai alat untuk menggantungkan arca itu karena itulah arca juga digunakan sebagai liontin. Di Indonesia, arca perunggu ditemukan di Bangkinang (Riau), Palembang (Sumsel) dan Limbangan (Bogor).

Kebudayaan Masyarakat Zaman Praaksara
Gambar Arca Perunggu
Sumber: https://satujam.com/arca-perunggu/

Hingga saat ini, beberapa hasil kebudayaan masa pra aksara masih ada dan berkembang di Indenesia. Misalnya saja alat-alat yang terbuat dari batu seperti cobek, dan lesung batu, motif-motif batik, gerabah, dan sistem kepercayaan. Hingga saat ini masih banyak masyarakat Indoensia yang memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan. Walaupun alat-alat dan hasil budaya tersebut telah banyak berubah seiring dengan berkembangnya dan penyesuaian terhadap zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU