Karakteristik dan Jenis Archaebacteria

Yuk, Kita simak video Karakteristik dan Jenis Archaebacteria dibawah ini!

Apakah Anda telah mempelajari tentang Archaebacteria?

Salah satu jenis makhluk hidup berukuran mikro ini berbeda dengan jenis bakteri yang lain. Archaebacteria tergolong sebagai bakteri primitif yang umumnya hidup di tempat atau lingkungan yang bersifat ekstrim. 

Istilah Archaebacteria sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Archio (jaman dahulu) dan bakteri. Archaebacteri diduga merupakan organisme pertama yang ada di dunia. Saat pertama kali ditemukan pada tahun 1977, Archaebactera dianggap sama dengan bakteri (Eubacteria). Namun setelah diteliti lebih lanjut, golongan Archaebacteria memiliki Karakteristik dan Jenis yang sedikit berbeda, sehingga pengelompokannya pun dibedakan dari Eubacteria.

Karakteristik dan manfaat Archaebacteria 

Beberapa karakteristik yang dimiliki oleh Archaebacteri antara lain:

  • Struktur tubuh sederhana, organisme prokariotik.
  • Memiliki ukuran tubuh sekitar 0,1-200 µm.
  • Dapat hidup sendiri (soliter) ataupun berkelompok (koloni).
  • Hidup di lingkungan ekstrim (dasar laut, laut berkadar garam tinggi, air panas, lingkungan asam, dsb).
  • Dinding sel tidak memiliki peptidoglikan.

Archaebacteria memiliki peran penting dalam kehidupan, tak terkecuali kehidupan manusia.

Beberapa jenis bakteri purba ini dapat dimanfaatkan oleh manusia, antara lain:

  • Bahan untuk mengatasi pencemaran. Beberapa jenis Archaebacteria dapat digunakan untuk membantu mengatasi pencemaran, misalnya untuk membersihkan tumpahan minyak pada sungai/laut.
  • Bahan bakar alternatif, misalnya biogas.
  • Bahan pembuatan deterjen. Enzim yang dihasilkan Archaebacteria jenis tertentu dapat berfungsi untuk menahan pH dan suhu yang tinggi.
  • Membantu proses pengolahan makanan (industri makanan). Misalnya untuk memproses karbohidrat.

Jenis-jenis Archaebacteria

Berdasarkan karakteristik dan lingkungan tempat hidupnya, Archaebacteria dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.

Archaebacteria metanogenik    

Archaebacteria jenis ini disebut methanogen karena dapat melakukan metabolis gas metana (CH4) dengan cara mengurangi karbon dioksida (CO2). Jenis ini mendapatkan zat makanan dari proses pembusukan bahan organik dan menghasilkan gas metana. Archaebacteria metanogenik bersifat anaerob dan kemosintetik. Bakteri ini umumnya hidup di rawa-rawa, lingkungan berlumpur, dan tempat-tempat lain yang kekurangan oksigen. 

Contoh archaebacteria kelompok metanogenik yaitu Sulfolobus dan Methanococcus jannaschii. 

Archaebacteria halofilik   

Halofilik berasal dari kata Halo (garam) dan  Philos (suka).  Arcahebacteria halofilik  hidup di lingkungan memiliki kadar garam atau salinitas yang tinggi. Untuk mendapatkan zat makanan, beberapa bakteri pada kelompok ini diketahui dapat berfotosintesis. Klorofil yang dimiliki disebut bacteriorodopsin yang menghasilkan warna ungu. Contoh Archaebacteria halofilik yaitu halo bacterium.

Archaebacteria thermoasidofilik  

Archaebacteria thermoasidofilik  hidup di  lingkungan yang bersuhu tinggi dan asam, misalnya di kawah vulkanik gunungapi atau mata air yang mengandung sulfur.  Bakteri ini mengoksidasi sulfur yang ada di lingkungan. Contoh bakteri kelompok ini yaitu Psychophilie.

Baca Juga: Bahaya Virus Corona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU