Peradaban Islam Tertua di Nusantara

Yuk, Kita simak Peradaban Islam Tertua di Nusantara dibawah ini!

Agama Islam di Indonesia pertama kali hadir di Barus.

Berbicara tentang Peradaban Islam Tertua di Nusantara, Literatur sejarah banyak menyebutkan bahwa agama Islam di Indonesia pertama kali hadir di Barus. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, pada abad ke-7. Di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriyah, menguatkan adanya komunitas Muslim pada masa itu. Selain itu, ditemukan makam Syekh Mahmud ditahrikhkan pada 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah.

Barus merupakan kota Emporium dan pusat peradaban pada abad 1 – 17 M. Barus disebut juga dengan nama lain, yaitu Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Pada zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun, saat Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Kerajaan Aceh. Saat ini, Kota Barus adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Indonesia. 

Pada masa lalu, kapur barus dan rempah-rempah merupakan salah satu komoditas perdagangan yang sangat berharga dari daerah ini dan diperdagangkan sampai ke Arab dan Parsia. Kapur Barus sangat harum dan menjadi bahan utama dalam pengobatan di daerah Arab dan Persia. Kehebatan kapur ini pun menjalar ke seluruh dunia dan mengakibatkan kapur barus diburu dan mengakibatkan harganya semakin tinggi. Eksplorasi yang berlebihan dari kapur barus ini mengakibatkan tidak ada lagi regenerasi dari pohon penghasil kapur barus ini.

Jalur perdagangan

Claude Guillot memaparkan bukti-bukti bahwa sejak abad ke 6 Masehi, Barus sudah menjadi kawasan perdagangan yang ramai. Pada akhir abad ke 7 yang juga merupakan abad pertama Hijriah, pedagang-pedagang Arab mulai menjejakkan kakinya di pelabuhan Barus. Pada abad ke-7, Barus kian tersohor hingga ke Eropa dan Timur Tengah karena menghasilkan kapur barus dan rempah-rempah. Masuknya Islam ke Nusantara diyakini melalui jalur perdagangan Barus. Jalur perdagangan ini dikenal sebagai Jalur Rempah karena para pedagang memiliki misi mencari rempah-rempah.

Baca juga: Akulturasi Budaya Islam

Barus menjadi salah satu tujuan wisata bagi para peneliti arkeologi Islam, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, khususnya di Lobu Tua. Para peneliti Prancis dan Indonesia melakukan eksplorasi arkeologi di kota tua Barus. Saat ini kita dapat melihat peninggalan sejarah Islam di Barus, yaitu dengan adanya makam Papan Tenggi dan makam Mahligai.

Jika melihat beberapa peninggalan dan keberadaan Makam Papan Tinggi, di lokasi ini terdapat makam terpanjang dan mempunyai batu nisan yang besar dan tinggi. Konon panjang makam itu diperkirakan sekitar tujuh meter lebih. Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas tertulis nama Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut (Yaman) yang ditahrikhkan pada 34 Hijriyah sampai 44 Hijriyah. Selain makam panjang, di dalam lokasi Makam Papan Tinggi itu juga terdapat lima makam lain yang menurut cerita adalah makam keturunannya.

Barus merupakan perkampungan Muslim pertama di Nusantara.

Selain Makam Papan Tinggi, di Barus juga terdapat lebih dari 200 makam yang terletak di atas perbukitan Desa Dakka, Kecamatan Barus. Makam ini disebut Makam Mahligai dengan batu nisan yang besar dan kecil. Di lokasi itu, terdapat makam Syekh Rukunuddin yang wafat tahun 672 Masehi atau tahun 48 Hijiriyah, abad ke 7 Masehi.

Pada 24 Maret 2017, Pemerintah RI meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Hal ini juga merupakan bukti atau pengakuan bahwa Barus merupakan kota peradaban Islam tertua di Nusantara. Barus merupakan perkampungan Muslim pertama di Nusantara.

Comments (1)

  • Ema Kharismawati
    January 22, 2020

    Saya sangat terhibur dengan materi tersebut..thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MENU